Blog Manajemen

Kumpulan berbagai artikel terkait manajemen

Mahesa Sura dan Esensi Kepemimpinan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Erupsi Gunung Kelud terjadi beberapa waktu yang lalu. Berbagai media banyak yang mengulas bencana ini. Namun, bukan perkara letusan yang menjadi topik artikel kali ini. Saya justru teringat akan cerita legenda terkait Gunung Kelud.

Ada banyak versi mengenai legenda ini. Saking banyaknya, tak mungkin bila saya ceritakan satu per satu tiap versinya. Oleh karena itu, saya akan menceritakan versi yang saya sukai. Versi yang nyaris serius. Tapi tenang saja, pakem dongengnya masih tetap ada.

Alkisah, pada jaman dahulu kala, terdapat kerajaan Jenggala Manik. Raja di kerajaan ini memiliki putri cantik jelita yang sudah cukup umur dan kebelet menikah.

Seperti kisah-kisah legenda lainnya di tanah Indonesia tercinta, sang Raja mengadakan sayembara untuk menentukan calon pendamping sang putri. Bila dibandingkan dengan jaman sekarang, maka model sayembara ini tak ubahnya seperti fit and proper test.

Dalam setiap dongeng dan legenda di Indonesia, yang namanya sayembara, selalu saja mempertandingkan kesaktian. Tak pernah saya mendengar legenda Indonesia terkait sayembara yang mempertandingkan kecerdasan atau pun logika berpikir kontestannya.

Tapi sudahlah, itu kan hak prerogatif sang raja. Marilah kita kembali ke jalan cerita yang baik dan benar.

Singkat cerita, terkumpul lah ratusan kontestan yang merasa memiliki kesaktian tinggi dari berbagai penjuru negeri. Satu diantara para kontestan tersebut bernama Mahesa Sura. Seorang pemuda sakti mandraguna, berbadan atletis, tinggi 174 cm, telah cukup umur untuk menikah, serta lulusan terbaik dari padepokan silat ternama. Benar-benar gambaran seorang jejaka ideal pada masa itu. Namun sayangnya, dia memiliki wajah seperti kerbau.

Meski berwajah kerbau, dia tetap pede dalam kesehariannya. Kemungkinan besar, rasa pede-nya didapatkan dari sang ibu yang selalu menceritakan kisah sukses Tukul Arwana sebagai pengantar tidur.

Tepat pukul 8.15 pagi, setelah molor 15 menit dari jadwal, sang raja pun membuka sayembara dengan pidato sepanjang 49 halaman daun lontar. Lalu, ditutup dengan himbauan bahwa sayembara ini haruslah jujur, adil, dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Beliau akan sangat prihatin bila terdapat ketidak adilan atau pun pelanggaran aturan.

Pidato ini sangat menyentuh dan menenangkan hati Mahesa Sura. Sebab, dalam aturan sayembara yang telah dia baca, tak ada satu pun pasal larangan mengikuti sayembara terkait kejelekan wajah.

Bahkan, dalam proses administrasi pendaftaran sayembara, tidak terdapat tim ahli yang bertugas menaksir kegantengan seorang kontestan. "Sungguh melegakan, sang raja rupanya berkomitmen terhadap aturan sayembara ini." kata Mahesa Sura dalam hati.

Sayembara babak pertama pun dimulai. Para kontestan diwajibkan mengadu kesaktian dengan cara merentangkan busur pusaka kerajaan. Tidak sembarang orang yang sanggup merentangkan busur ini. Maklum, namanya juga pusaka kerajaan.

Dari ratusan pendaftar, hanya terdapat 9 orang yang sanggup merentang busur. Dan Mahesa Sura termasuk satu diantaranya.

Pukul 13.00, tepat setelah jam makan siang, sayembara babak kedua pun dimulai.

Kali ini, para peserta diwajibkan unjuk kesaktian untuk mengangkat gong pusaka kerajaan. Tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat gong ini, kecuali Mahesa Sura. Lagi-lagi harap maklum, namanya juga pusaka kerajaan.

Ehh, sebenarnya ada satu lagi kontestan yang berhasil mengangkat gong ini. Namun, kontestan tersebut terpaksa mengundurkan diri setelah di jewer oleh istrinya keluar dari arena sayembara. Praktis, keluarlah Mahesa Sura sebagai pemenang sayembara ini.

Akan tetapi, sang putri raja merengek-rengek tidak ingin menikah dengan Mahesa Sura. Dia malu dengan teman-teman sosialitanya. Sang putri tak bisa membayangkan reaksi para sosialite, bila memergokinya bersama dengan Mahesa Sura saat jalan-jalan di pasar kerajaan.

Selain itu, tas tangan merek Hermes yang dikenakannya, jelas tak akan matching dengan kontur wajah Mahesa Sura yang seperti kerbau.

Akhirnya, untuk membatalkan hasil sayembara secara halus, sang raja pun membuat siasat dengan mengumumkan tambahan persyaratan bagi Mahesa Sura. Sang raja tidak berani bila harus bertarung face-to-face dengan Mahesa Sura. Sebab, sang raja yakin, bahwa pertarungan semacam itu, hanya akan membuat prihatin seluruh negeri.

Singkat cerita, Mahesa Sura diwajibkan membuat sumur di puncak Gunung Kelud. Alasannya, air sumur itu nantinya digunakan mandi pada saat prosesi siraman berlangsung. Tanpa berpikir panjang Mahesa Sura menyetujui tambahan persyaratan tersebut.

Cepatnya Mahesa menyetujui tambahan persyaratan tersebut, tentu tak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Sebelum lulus dari padepokan silat ternama, dia sempat magang selama 2 minggu (sebagai security) di perusahaan kontraktor asing yang menangani pengeboran minyak. Off-shore, maupun on-shore.

"Apa susahnya bikin sumur?" begitu pikir Mahesa Sura sambil mengingat-ingat pengalaman yang didapatnya saat magang dahulu.

Tak perlu waktu lama, sumur sedalam 320 feet telah tergali. Hanya perlu beberapa feet lagi untuk menembus lapisan akuifer. Mahesa Sura, dengan semangat juang 45, terus menerus mengayunkan cangkulnya. Menggali dan terus menggali.

Sang raja beserta putrinya khawatir bukan kepalang. Maka, sebelum air berhasil memancar keluar dari sumur, sang raja memerintahkan seluruh pasukannya untuk menimbun kembali sumur tersebut. Mengubur hidup-hidup Mahesa Sura di dasar sumur buatannya.

Oleh karena itulah, tiap kali terjadi letusan Gunung Kelud, warga sekitar beranggapan bahwa Mahesa Sura sedang mengamuk. Membalaskan dendamnya kepada sang raja dan keturunannya.

Demikianlah cerita legenda Gunung Kelud. Raja yang berulah, namun rakyat yang sengsara.

Cerita ini, meski tragis dengan ending yang sadis, memiliki pesan moral yang merupakan esensi dari kepemimpinan. Pesan yang ditujukan kepada para raja (pemimpin). Entah itu pemimpin bertitel supervisor, manajer, direktur, dekan, kepala rumah tangga, atau bahkan owner sekalipun.

Seorang pemimpin haruslah walk the talk. Menjalankan apa yang diucapkannya. Terlebih, bila itu adalah aturan yang disetujuinya sendiri.

Karena dampak dari keputusan seorang pemimpin, akan mempengaruhi nasib orang-orang yang dipimpinnya.

 

Note : Ditengah rentetan bencana yang melanda negeri, semoga artikel ini memberi seulas senyum di wajah Anda.

Logo Integra eTraining dari PT. Integra Solusi Dinamika

Integra eTraining - Pelatihan Online Pertama di Indonesia
Integra eTraining merupakan subsidiary company dari PT. Integra Solusi Dinamika.

PT. INTEGRA SOLUSI DINAMIKA

Head Office : Graha Pena suite 1608, Jln. A. Yani no. 88, Surabaya 60234.
Operational : Jln. Kap. Suwandak no. 143, Lumajang 67313

SMS / WhatsApp : 0888 0498 4828
LINE ID : etraining.space
Email : marketing@etraining.space

Jam kerja : senin s/d jumat, pkl. 08.00 s/d 16.00 WIB.

Secured & Verified by :

Comodo Ltd. Secure Site

© 2012 - 2017 PT Integra Solusi Dinamika. All Rights Reserved.